Thursday, 15 December 2011

Kisah Pegawai Bea Cukai menjalani Fragmen 'Ujian Hidup'

Kisah Pegawai Bea Cukai Menjalani Fragmen
'Ujian Hidup'

Sama hal dengan kisah sebelumnya, berikut ini cerita pengalaman hidup seseorang yang cukup inspiratif bagi saya. Cerita ini saya copas dari blog http://www.iswandibanna.com. Semoga berkah & bermanfaat...


Sore itu sebuah BBM (Blackberry Message) menyita perhatian saya: “Ping!” ternyata dari seorang senior di kantor (sesepuh,-red) pa Ardani.  BBM berlanjut, : “Aku bikin note di FB sepertinya sampeyan kelupaan tak tag, tolong ‘dkritisi’ tentang teknik penulisannya.”

Sesaat saya terdiam, sempat tercengang seorang pa Ardani yang cuek dan biasa berkutat dengan dunia fotografi  ternyata bisa juga mengaduk emosi pembaca dengan tulisan yang begitu inspiratif. Tulisan berjudul ‘Desember’ mengungkap sisi lain seorang pegawai (tepatnya Pejabat) Bea Cukai yang tidak melulu menyangkut pekerjaan. Tulisan ini menebar banyak  hikmah bisa kita petik tentang ‘ujian hidup’ yang dialami beliau dan keluarga.
Desember menjadi bulan spesial bagi pa beliau dan keluarga karena mengingatkan mereka akan fragmen ‘ujian hidup’ yang harus dilalui. Apa sebab? Sedih memang untuk menceritakannya, karena  tepat setahu lalu (Desember 2010) anak ke empat mereka Muhammad Qodart Multazam dirawat di RSCM dan dinyatakan positif menderita PSORIASIS .  Psoriasis ialah sejenis penyakit kulit yang penderita nya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Proses pergantian kulit pada penderita psoriasis berlangsung secara cepat yaitu sekitar 2–4 hari.

Ada banyak hikmah yang dapat kita ambil dari tulisan pa Ardani, salah satunya berhentilah untuk mengeluh atas cobaan yang menimpa kita. Seperti quote yang sering kita dengar ‘Stop Complaining coz God gives more than we ask’. Saat di RSCM, beliau merasa ‘tertampar ‘saat melihat seorang bocah di ruang sebelah yang menderita kelainan jantung dan telah menjalani perawatan selama dua bulan. Jangan Tanya apa profesi orang tuanya? Ayah bocah itu hanyalah seorang guru madrasah sebuah yayasan di pinggiran Jakarta. Terbayang betapa berat beban financial yang harus ditanggung poleh ak Huda (nama ayah bocah tersebut).

Baik sahabat, supaya tidak penasaran, berikut akan saya tampilkan tulisan inspiratif pa Ardani berjudul ‘Desember’:

Sejak tahun 2010 bulan Desember, kami tambahkan tanda agenda khusus di kalender keluarga kami, selain sebagai bulan ulang tahun pernikahan juga merupakan bulan yang penuh dengan barokah, seperti pepatah jawa yang mendefinisikan bahwa desember adalah gede gede ne sumber kalau diartikan secara bebas saat bulan Desember tiba, biasanya hujan turun dengan derasnya dan air merupakan salah satu sumber utama kehidupan terutama bagi para petani, sehingga para petani tidak perlu repot untuk mengairi sawah mereka karena secara otomatis sudah tercukupi oleh air yang datang dari langit. Pun juga air menjadi sumber kehidupan utama manusia pada umumnya.

Bagi kami, makna desember kami modifikasi artinya, meskipun masih kami definisikan sebagai gede gede ne sumber namun karena profesi kami bukanlah petani, hanya seorang pegawai negeri sipil. Gede gede ne sumber bagi kami disini adalah karena kami masih diberi oleh Allah sebuah “teguran/cobaan”, dimana tepat pada tanggal 4 sd 10 Desember 2010, anak ke 4 kami Muhammad Qodart Multazam dirawat di RSCM karena oleh dokter dinyatakan positif menderita PSORIASIS

RSCM menjadi  “gede gede ne sumber” karena kami beranggapan dengan dirawat di RSCM kami setiap hari bisa melihat orang orang yang lebih berat “teguran/cobaan” dibanding kami, sehingga kami bisa “menimba” lebih banyak sumber sumber syukur kami kepada Allah.

Dengan dirawat di RSCM merupakan ujian keikhlasan kami dalam menerima cobaan ini.

Seperti kata almarhum Bapak yang dulu selalu memberi wejangan dalam bahasa jawa kuno, dan salah satu wejangan beliau yang tidak pernah kami lupakan adalah dadiyo wong kang iso rumongso ojo dadi wong sing rumongso iso  ( biasakanlah menjadi manusia yang bisa dan jangan menjadi manusia yang senantiasa merasa bisa.)

Kami harus bisa bersyukur bahkan harus bisa lebih banyak bersyukur lagi karena dapat bisa langsung mengamalkan teori teori pada buku buku yang kami baca tentang bagaimana indahnya dzikurullah, bagaimana nikmatnya mendekatkan diri kepada Allah. Mungkin jika kami tidak ditegur Allah melalui sakitnya anak kami bisa jadi kami lalai tentang pentingnya bersyukur, pentingnya husnudzon, pentingya sabar.

Karena kami yakin bahwa Allah tidak akan menguji kami melewati batas kemampuan kami.

Saat pertama kali anak kami dinyatakan positif menderita PSORIASIS, sebagai manusia biasa otomatis kami sock, terperangah dan sejuta perasaan tidak menentu lainnya.

Psoriasis ialah sejenis penyakit kulit yang penderita nya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu lama atau timbul/hilang, penyakit ini secara klinis sifatnya tidak mengancam jiwa, tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup serta menggangu kekuatkan mental seseorang bila tidak dirawat dengan baik.

Berbeda dengan pergantian kulit pada manusia normal yang biasanya berlangsung selama tiga sampai empat minggu, proses pergantian kulit pada penderita psoriasis berlangsung secara cepat yaitu sekitar 2–4 hari, (bahkan bisa terjadi lebih cepat) pergantian sel kulit yang banyak dan menebal.

Sampai saat ini penyakit Psoriasis belum diketahui penyebabnya secara pasti, sehingga belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan secara total penyakit Psoriasis.


Dan anak kami menderita Psoriasis jenis postula dimana seluruh tubuhnya mengelupas kulitnya. Alhamdulillah dengan bantuan dokter yang merawat anak kami di RSCM kami diberi banyak penjelasan tentang penyait tersebut, memang Psoriasis jenis postula adalah kategori “berat” namun jika kami menengok ruangan sebelah anak kami di rawat, maka kami harus lebih banyak bersyukur.

Firman Allah dalam Al Qur’an surat Arrohman pun kami lafadzkan Fabiayyi alaa irobbikuma tukadzdziban, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

Melihat anak kecil di sebelah ruangan anak kami dan mengalami kelainan jantung dan sudah 2 bulan dirawat sedangkan Pak Huda orang tua si anak tersebut hanyalah guru pada sebuah madrasah sebuah yayasan di pinggiran Jakarta.

Saat bersama dari Musholla selepas solat subuh  mengatakan, Gusti Allah mBoten sare Mas…Allah tidak tidur, dan Allah pasti mendengar jeritan hati kita manakala kita pasrah dan meminta hanya kepada Allah.

Malu rasanya hati ini jika mengeluh, apalagi jika di depan beliau yang cobaannya berlipat ganda dibanding kami, namun senantiasa terpancar optimisme dalam menerima cobaan dari Allah tersebut.

Setahun sudah anak kami keluar dari RSCM, dan memang beberapa kali muncul lagi penyakitnya kembali kami berusaha untuk berhenti sejenak dan menengok ke belakang, akan pentingnya belajar husnudzon, bersyukur dan bersabar.

Meski jika dilihat ke belakang sejak dari kelahirannya sampai positif dinyatakan menderita PSORIASIS, anak kami tidak pernah memiliki kelainan pada tubuhnya, bahkan KMS ( Kartu Menuju Sehatnya) selalu diatas rata rata.

Hanya saja setelah diberi penjelasan oleh dokter di RSCM, kami mengingat ingat (ternyata) salah satu ciri ciri PSORIASIS yang ada pada anak kami adalah ketombe yang sering di kepala, luka di belakang telinga, luka pada lipatan pangkal paha dan lukanya bersifat simetris.

Dan sebenarnya selama ini sudah beberapa kali berobat ke dokter kulit, namun memang jalan yang harus dilalui ini, maka kami berusaha pasrah dan ikhlas saja.

Pak Huda tetangga kamar di RSCM mengatakan kepada kami, ini merupakan instropeksi buat kita Mas, mungkin selama ini kita terlalu disibukkan dengan urusan urusan duniawi sehingga (sedikit) melupakan Sang Kholiq.

Barangsiapa yg di pagi hari dan petang hari menuju ke masjid,maka Allah akan menyediakan baginya sebuah tempat tinggal di dalam surga ( HR Imam Bukhari). Pertanyaan buat kita Mas…apakah setiap hari kita bisa mengamalkan ajaran Rosul yang sederhana ini..???

Bukankah selama di RSCM kita bisa dekat bahkan dekat sekali dengan Allah, kita   dengan mudah dan ringan segera mengambil air wudhu untuk sholat berjamaah manakala adzan berkumandang..?

Betapa banyak orang yang menerima cobaan, namun berapa banyak orang yang sabar menghadapinya, jadi kita bukan satu satunya orang yang menerima cobaan itu Mas, pesan beliau sungguh membuat saya sadar dan berusaha kuat untuk menerima cobaan ini.

Dan diakhir pembicaraan beliau mengutip firman Allah di surat Al Baqoroh ayat 214 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang (cobaan) sebagaimana halnya orang orang sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serat digoncangkan (dengan bermacam macam cobaan).

Pinggiran Jakarta menjelang dini hari, 6 Desember 2011
Untuk Jagoanku "Engkau Lelaki Kelak Sendiri"


Untuk mengetahui tentang PSORIASIS silahkan buka di www.psoriasisindonesia.org

-------------
Terima kasih pa Ardani telah berbagi pengalaman hidup ini semoga kita pandai bersyukur dan mampu bersabar menjalani setiap fragmen cobaan hidup. Salam pak buat dek Odat ya! Semoga menjadi ikhwan sejati. hehe.

Kondisi saat ini setahun setelah kena PSORIASIS
 
Sumber :http://www.iswandibanna.com/2011/12/kisah-pegawai-bea-cukai-menjalani.html