Tuesday, 12 June 2012

Testimoni Tentang DJP Oleh Asma Nadia


Syiar Kebaikan
Tulisan Testimoni dari Asma Nadia (Lingkar Pena) 

di Republika, 29 Mei 2012
-

Masih adakah orang jujur di negeri ini? Maafkan jika awalnya  saya merasa pesimistis. Betapa tidak, saya berpijak di negeri di mana praktik korupsi dan kolusi  marak serta hukum yang konon  bisa dipermainkan. Istilah mencari jarum dalam tumpukan jerami mungkin masih lebih mudah ketimbang menemukan sosok jujur dan penuh integritas di Tanah Air.

Namun, pertemuan dengan sejumlah orang memaksa saya berpikir ulang. Sebuah workshop kepenulisan, sebenarnya ini merupakan pertemuan kedua kami. Pesertanya adalah staf Ditjen Pajak,  yang sejauh ini telah menerbitkan dua buah buku yang mengisahkan ragam tantangan, godaan, serta peluang untuk berbuat tidak benar, yang dihadapi.

Pendeknya semua catatan hati  para pegawai pajak  yang mati-matian berjuang menegakkan  nurani untuk menghindari korupsi. “Seharusnya, Ditjen Pajak menjadi Robinhood, yang mengambil sebagian dari kekayaan masyarakat mampu—tetapi dengan cara yang benar—lalu dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak.” Perumpamaan menarik, pikir saya terhadap kalimat salah satu peserta workshop.


Propaganda? Saya tidak menyalahkan jika ada yang berpikir demikian. Seperti pembuka tulisan ini, kadang sulit untuk menerima kenyataan bahwa bagaimanapun kejujuran masih bisa dikenali di negeri ini. Istilah bad news is a good news, turut memberi andil dalam pemaparan lebih banyak berita buruk, yang saking dieksploitasi sedemikian rupa,  kadang  nyaris tak menyisakan jejak kebaikan.

Tidak salah,  sebab keburukan wajib diberitakan agar  ada langkah perbaikan dan pengawasan dari publik. Tapi, hal-hal baik juga harus diangkat secara proporsional. Supaya masyarakat tidak melulu akrab dengan perwakilan keburukan, seperti para koruptor, hingga ketika dimunculkan figur yang jujur, sulit menerimanya tanpa prasangka.

Pertemuan dengan sejumlah peserta workshop—yang ingin belajar menulis dalam ikhtiar mensyiarkan kejujuran itu—menggugah hati saya. Antusiasme mereka untuk menebalkan semangat perjuangan demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat—terasa menular. Pelan-pelan rasa optimisme terhadap keberadaan pribadi-pribadi jujur di Tanah Air yang awalnya meredup, lalu menyala kembali.

Pada akhirnya saya tahu,  tidak boleh kehilangan kepercayaan terhadap keberadaan orang-orang yang memegang teguh kejujuran. Khususnya setelah pertemuan dengan sejumlah staf dari  instansi pemerintah yang konon termasuk ‘paling basah’ itu.  Sosok panutan terkait kejujuran kemudian juga saya jumpai di Departemen Kehakiman, kepolisian, jaksa, dan di berbagai lembaga pemerintahan lain.

Teringat kisah salah satu alumni workshop ketika bukunya, Pergi Haji dengan Rp 100, terbit. Saat judul ini saya lontarkan banyak yang tidak percaya. Bagaimana mungkin seseorang bisa pergi haji dengan uang seratus rupiah?      Tetapi, ini kisah nyata seorang pegawai negeri yang gajinya pas-pasan sehingga, bahkan perjalanan mimpi ke Tanah Suci, harus dimulai dengan menabung keping demi keping uang seratus rupiah.

Tapi, bukan hanya itu yang menarik, melainkan kenyataan bahwa penulis adalah pegawai Kementerian Keuangan. Dengan embel-embel demikian di mata awam, bukankah seharusnya mudah saja baginya untuk mendapatkan pemasukan sampingan di luar gaji? Karenanya, saya bersyukur sang pegawai negeri—yang tahun lalu akhirnya berhaji bersama istri—kemudian menulis perjuangannya yang sangat mungkin menginspirasi orang lain.

Mengabadikan semangat kebaikan lewat tulisan. Ya, mengapa tidak? Bagaimana dengan anggapan jika hal itu lalu dianggap riya? Kewajiban hamba-hamba Allah untuk menjaga kebersihan hati dan niat dari riya, sombong, dan berbagai bisikan buruk, bukan hanya dalam menulis. Soal label yang diberikan orang boleh dipikirkan sebatas evaluasi tanpa perlu sangat dikhawatirkan. Selama bukan Allah yang memberi, bismillah.

Mungkin dengan demikian, kita bisa mengubah warna negeri yang pucat. Mengabarkan optimisme akan adanya sosok-sosok jujur  di Tanah Air. Masih banyaknya pribadi baik. Hanya saja, banyak  di antara mereka yang diam atau luput dari pandangan. Tugas bersama untuk mendukung setiap kebaikan sehingga orang-orang baik berani bersuara.

Dan tulisan, adalah satu media berjuang untuk meluruskan hal-hal yang menyimpang serta memopulerkan semangat dan jejak kebaikan.