Saturday, 15 December 2012

Kisah Inspiratif Penghafal Al Qur'an

Kisah Inspiratif Penghafal Al Qur'an


Kisah ini saya copas dari situs speedytaqwa.com. Semoga menginspirasi para pembaca.

Perkenalkan nama saya adalah Faisal Azhar Mahasiswa IT Telkom yang menjadi salah satu penghuni Masjid Kampus, Syamsul ‘Ulum nama Masjidnya. Kami sangat bangga menjadi penghuni masjid. Kami  biasa di panggil sebagai kuncen masjid, marbot masjid, sampai-sampai ada teman yang menyeletup memanggil kita sebagai “James Bond” keren kan?  Pasti, apalagi kalau tau itu adalah singkatan dari Jaga Mesjid dan Kebon hahaha luar biasa.  Sehari-hari kami bangun di awal shubuh, selepas shubuh melakukan program hafalan, tahsin Al Qur’an, English Day, Olahraga bersama, dan juga melaksanakan program Kabar yaitu program Kerja Bakti Akbar membersihkan Masjid Syamsul ‘Ulum (MSU). Kebahagian ini bagaikan tinggal di komplek pesantren Teknologi, walau dari sebagian besar penghuni tidak pernah merasakan pendidikan pesantren. namun di sini kami bagaikan tinggal dikeluarga pondok yang menjunjung tinggi nilai Agama Islam yang sangat indah. Tidak jarang kegiatan kampus kami pun menjadi topik-topik hangat pembicaraan selepas syuro dan kumpul rutin di MSU, ruang berkumpul kita atau biasa disebut sebagai kamar besar menjadi tempat menyenangkan untuk sejenak mereganggkan urat selepas kuliah. Kamar ini pun menjadi tempat master komputer menyelesaikan tugas kodingan bahasa program baik itu C++, Java, php, dan oracle hingga ruangan perakitan robot line follower, dan papan-papan PCB, Subhanalloh bisa dibayangkan integritas ketika ilmu agama digabungkan dengan teknologi pasti menjadi masterpeace yang menggagumkan.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, rutinitas dan ritual perkuliah pun sedikit melonggar sedangkan agenda skripsi menjadi momok yang menakutkan bagi kebanyakan mahasiswa, begitu juga bagi saya. Tapi ya tidak mau terlalu ambil pusing dengan masalah itu saya pun mulai bergerak mencari bahan. Dan Program Kerja Lapangan (PKL) menjadi jalan keluarnya. Alhamdulillah dengan waktu yang tidak terlalu lama saya akhirnya diterima di salah satu kantor Telekomunikasi BUMN di daerah Jawa Barat. Kantor yang memiliki luas hampi 10 ha ini pun sesekali saya kelilingi menaiki sepeda kesayangan saya, sepeda ini sengaja saya bawa dari tempat tinggal saya di MSU. Waah 30 menit berkeliling kantor, saya menemukan bangunan yang membuat saya rindu kampus.


Bangunan itu adalah Masjid, Masjdi Al Azhar namanya. Kantor ini memiliki masjid yang sederhana namun astri dan sangat indah. Oke tidak mau berlama-lama saya sandarkan sepeda ke batang pohon di sebelah kanan masjid lalu saya kegirangan menuju ke tempat wudhu. Wussshh airnya sangat segar dan jernih, selepas wudhu saya tunaikan solat dhuha dan tilawah beberapa halaman, Alhamdulillah gumam saya. Tiga puluh menit rehat di masjid membuat saya merasa ingin berjalan mengelilingi masjid hingga akhirnya di salah satu pojok bagian belakang masjid saya bertemu dengan lelaki nan tampan bernama Hanif Rasyid. Beliau sedang duduk sambil memandang kiri dan kanan seperti orang yang mencari sesuatu. Langsung saja saya datangi dan berkata “Assalamualaikum, mencari siapa kang?” , ternyata kang Rasyid sedang mancari teman “James Bond” yang tinggal di Masjid Al Azhar, langsung saja saya ke ruangan Operator masjid dan ternyata tidak ada orang. “Kang Rasyid tidak ada orang di masjid, kira-kira apa yang bisa saya bantu?” kata saya. Ternyata kang Rasyid ingin di bantu ke toilet, nah loh saya langsung kaget bercampur ngeri kenapa harus di bantu ya?, akhirnya saya tanya “kenapa kang dengan toiletnya?”.  Kang Rasyid menjawab “Gak ada yang salah kang dengan toiletnya, tapi ini kaki saya....” sambil menunjukkan kakinya. Allahu Akbar saya merasa bersalah menanyakan tentang hal itu, ternyata kaki kang Rasyid sudah di amputasi salah satunya. Tidak merpanjang pertanyaan dengan sigap saya gendong kang Rasyid dan saya tunggu diluar toilet. Setelah selesai kang Rasyid mengucapkan terima kasih. Masih dengan rasa penasaran saya pun menjawab “Iya kang sama-sama, oh ya punten akang teh kenapa sendirian saja di Masjid?” saya mulai bertanya. Ternyata kang Rasyid sedang memuraja’ah hafalannya, Alhamdulillah ternyata kang Rasyid telah selesai dan hafal 30 juz. Jleeb waduh saya jadi merasa minder sendiri, bagaimana tidak dengan keadaan saya yang sehat jasmani dan sama-sama “James Bond” kenapa semangatnya kalah dengan kang Rasyid, MasyaAllah.

Selanjutnya saya menanyakan niat dan alasan apa yang menjadi penguat kang Rasyid untuk menghafal Al Qur’an, saya semakin merinding ketika mendengar ceritanya. Kang Rasyid bercerita ketika dilahirkan kang Rasyid sebenarnya sehat jasmani hingga suatu saat kang Rasyid mengalami kecelakaan tertimpa kursi ketika masih berusia 2 tahun, kursi itu menimpa kakinya hingga akhirnya kaki itu pun harus di amputasi karena mengalami pendarahan dalam yang serius. Semenjak itu kang Rasyid menjadi tidak dapat berjalan dengan normal. Namun Ibu kang Rasyid yang bernama Ibu Siti Amas selalu menjadi sosok penyemangat bagi kehidupan kang Rasyid , Ibu Amas yang telah ditinggal wafat suaminya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Kecintaan dan kesabaran Bu Amas menjadi obat penawar untuk semua rasa kekecewaan yang selalu menyelimuti hati dan perasaannya. Rasa cinta terhadap Bu Amas pun selalu ingin di balas dengan sesuatu hal yang pasti bisa membuat Bu Amas senang. Hingga suatu saat kang Rasyid memiliki keinginan menaikkan haji atau umroh ibunya. Berangkat ke tanah suci bertamu kerumah Allah SWT, berdo'a kepada untuk keselamatan dunia akhirat Kang Rasyid, orangtua, dan keluarganya. Walau belum tau bagaimana cara mengumpulkan uang yang terbilang besar tersebut, tapi kang Rasyid  yakin bahwa ketika dia berusaha insyaaAllah akan ada jalannya. Apalagi sekarang banyak diadakan lomba-lomba yang di adakan di internet berhadiah lumayan besar dan bisa dikumpulkan untuk tiket perjalanan Kang Rasyid dan Bu Amas ke Mekkah. Namun, ya Rabb sungguh manusia hanya bisa merencanakan, dalam suatu perjalanan pulang ibu kang Rasyid dari  pasar, motor yang diibawa ibu Kang Rasyid tidak sengaja bersenggolan dengan angkutan umum yang ugal-ugalan dijalan. Angkutan Umum tersebut membuat ibu Amas terjatuh dan kepalanya terbentur ke jalan, aternyata Allah memiliki takdir lain, sebulan dari niatan itu Ibu Kang Rasyid di panggil Allah SWT, terpukul dan sangat merasa ketidakadilan Allah menyelimuti perasaan kang Rasyid. Semua yang dirasa berharga dengan seenaknya Allah ambil dari sisinya. Sempat ada niatan untuk bunuh diri namun tindakan itu dicegah warga yang tidak sengaja melihat kang Rasyid sedang mengiris urat nadi tangannya. 

Sebulan berlalu dengan kehampaan, Kang Rasyid yang hidup semata wayang merasa tidak memiliki arti hidup. Rasa putus asa selalu menjadi rutinitas setiap hari hingga terkadang Kang Rasyid berbicara sendiri. Hingga suatu hari  Kang Rasyid tidak sengaja mendengarkan tausyiah Ustad di salah satu televisi Swasta. Ustad itu berkata bahwa Anak yang soleh adalah investasi berharga yang amalnya akan diterima oleh orang tua yang sudah tiada. Salah satu amalan yang dapat membanggakan orang tua, yang mana nanti akan dikenakan jubah dan mahkota yang bercahaya adalah anak yang hafal Al Qur’an. Subhanalloh hidayah Allah memang tidak disangka-sangka jalannya. Kang Rasyid pun bergegas memulai hafalan Al Qur’an karena Allah Ta’ala. Di tambah rasa cinta dan sayang yang teramat besar kepada Ibu Amas, semangat Kang Rasyid tumbuh mencari ridho Ilahi, rasa putus asa diganti menjadi rasa optimis, kehampaan di isi dengan tilawah, dan rasa gundah gulana pun dilumat dengan rajin bermuroja'ah. Dengan kondisi yang tidak dapat berjalan secara leluasa, ternyata menjadi cara Allah SWT membuat Kang Rasyid dapat berkonsentrasi dalam menghafal di dalam masjid, dari pagi hingga paginya, dari malam sampai malam berikutnya Kang Rasyid habiskan untuk menghafal Al Qur’an. Amalan sunnah sehari-hari yang dilakukan kang Rasyid adalah  Puasa Daud, Solat Qiyamul Lail, dan berinfak dengan harta yang ia miliki. Alhamdulillah, berkat kesungguhan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT kang Rasyid mampu menyelesaikan hafalan Al Qur’annya selama 8 bulan 18 hari. Hafalan tersebut di setorkan pada pondok pesantren salah satu Ustad dikawasan Jakarta. Selesai menyetorkan hafalan tersebut, pimpinan pondok pesantren mengobrol dengan kang Rasyid. Menanyakan latar belakang dan kakinya yang diamputasi. Mendengar cerita tersebut sang Ustad menangis, Ustad tersebut malu dan meminta kang Rasyid mengisi kajian motivasi bagi murid-muridnya. Tidak sampai disitu, Ustad yang mengetahui Kang Rasyid bermimpi ke Mekkah langsung menjual motor kesayangan miliknya dan menghadiahkannya untuk Kang Rasyid berangkat Umroh. Subhanalloh.

Allahu Akbar, bagaimana dengan kita yang nyata-nyatanya sehat jasmani dan rohani. Jangan sekali-kali memyepelekan orang yang tidak elok dimata padahal disisi Allah dialah hamba yang sangat di sayangi. Bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan dan semoga itu semua bisa menjadi jalan untuk berbuat kebaikan  kepada manusia dan beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita bisa menjadi penghafal Al Qur'an dengan bagaimanapun keadaan kehidupan yang kita jalani. Bersyukur kepada Allah, dan sayangi kedua orangtua. Karenanya lah kita memiliki sifat kesatria yang selalu berjuang membela Agama.

Sumber : http://www.speedytaqwa.com/untukindonesiaku/site/contest/detail/2032#.UMlAG6zArWt