Friday, 25 November 2011

Bayar Pajak Pasti Dikorupsi


 BAYAR PAJAK PASTI DIKORUPSI  ???

     
     Mungkin beberapa dari teman-teman pernah mendengar jargon/slogan yang berbunyi “Orang bijak taat pajak” and “hari gini gak bayar pajak, apa kata dunia???”. Dua jargon/slogan tersebut sering didengung-dengungkan di televisi, dipampang di baliho atau spanduk-spanduk milik Direktorat Jenderal Pajak, ngajakin masyarakat untuk bayar pajak. Namun, setelah munculnya kasus Gayus Tambunan, jargon yang menurut ane lumayan berhasil numbuhin citra baik kantor pajak, sekarang citra tersebut jadi agak “melempem” (bahasa gue,hahaha). Abis kasus tersebut beberapa orang kayaknya pada males bayar pajak, bahkan waktu booming kasus gayus, sempat isu ada gerakan boikot pajak (what???). Lucu juga denger gerakan boikot pajak coz orang-orang yang ngemeng boikot pajak belum tentu suka bayar pajak. Lagian kalo orang udah sering bayar pajak, taat and patuh terus tiba-tiba nggak bayar, pastinya ada langkah yang diambil pihak kantor pajak (ditagih atau diperiksa).

     Kalo ane lihat pake kacamata masyarakat awam (merk kacamata terbaru, hehehe), wajar aja masyarakat rada sensi dan marah kalo denger orang pajak korupsi. Mana ada orang yang mau “dipalakin” coba?? Hasil kerja banting tulang tiap hari harus dipotong pajak oleh pemerintah, lalu dikorupsi sama pegawainya. Apalagi dulu sebelum modernisasi/reformasi birokrasi, orang-orang pajak sangat terkenal kaya raya, waallohu’alam dari mana coz waktu itu gajinya kan gak sebesar saat ini. Coba deh agan2 ngaku kerja di pajak depan orang-orang biasa/masyarakat umum, pasti kesannya kita orang kaya.

            “mas kerja di pajak ya? Pasti basah” atau “wah kerja di pajak pasti banyak duitnya”

     Padahal belum tentu bos. Sepengetahuan ane, beberapa teman yang kerja di pajak nggak kaya-kaya banget, tapi nggak susah juga sebenarnya. Memang beberapa udah kaya raya, but it depend on our condition, mungkin dia emang turunan raden, banyak warisan atau punya perusahaan. 

     Ada beberapa hal penting yang menurut ane kurang dipahami masyarakat awam (temen ane juga termasuk tuh hehe)

1. Pengenaan pajak itu dilakukan oleh pemerintah PUSAT sama DAERAH (PEMDA). Jenis pajak yang dikenakan pun berbeda satu sama lain. Contoh kecil, pajak yg dikenakan kalo kita makan di restoran atau Outlet Fast Food itu bukan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) tapi pajak restoran. PPN dikenakan Pemerintah Pusat, kalo Pajak Restoran sama Pemda. Sekarang, pajak yang dikenain pemerintah pusat cuma fokus pada PPN sama Pajak Penghasilan (PPh), selanjutnya disebut pajak pusat. Sedangkan Pajak Bumi dan Bangunan, BPHTB, Bea balik nama kendaraan, pajak kendaraan bermotor itu dikumpulin sama pemda-disebutnya pajak daerah. Terus bedanya apa, sama-sama pemerintah kan???? Karena yang mengenakannya beda, maka kantornya juga beda, jadi kalo mau bayar atau protes soal korupsi pajak jangan salah kantor, jangan keliru nyalahin pemerintah pusat/pemda ya..hehehe

2. Pembayaran pajak pusat itu dilakukan di KANTOR POS/ BANK persepsi loo (Bank yg ditunjuk pemerintah pusat cc Menteri Keuangan). Jadi salah besar deh kalo ada yang bayar pajak di kantor pajak. Pembayaran pajak pusat ditujukan ke Rekening Kas Negara dan kalo udah masuk situ udah kayak lubang buaya, susah buat keluarnya. Dibutuhkan prosedur yang cukup ribet untuk mengeluarkan uang yang masuk ke kas negara coz ntar masuk ke APBN (#sok tau, gak apa2lah kan lagi belajar hehe). Jadi, menurut ane sangat kecil sekali, kecil banget malah kalo ada petugas pajak yang korupsi uang pajak masyarakat secara langsung dari kas negara. 

    Lalu kasus Gayus itu gimana? Gayus itu sepengetahuan ane disuap (kayak anak bayi disuapin, huekss). Ia disuap oleh perusahaan-perusahaan yang lagi ngurusin keberatan di pengadilan pajak. Pengadilan Pajak merupakan tempat bagi para Wajib Pajak yang nggak setuju dengan hasil pemeriksaan pajak, dengan mengajukan keberatan atau banding. Nah peran gayus disini gan, ngecilin pajak hasil pemeriksaan tadi karena dia kerja di bagian Keberatan dan Banding Kantor Pusat DJP ( kantor pusat hanya menangani kasus keberatan minimal Rp1 Miliar). Keputusan keberatan kan diambil kantor pusat, jadi Gayus and friend bisa nentuin keputusan hasil keberatan itu sesuai keinginan para Wajib Pajak yang ngajuinnya (sebelumnya dikasih fee dulu). CMIIW (kalo ada yg ngerti maksud ane di atas hebat #diksi dan frasenya ancur hehehe)

    Sebenarnya, kalo orang yang suka bayar pajak, pasti tau prosedur bayar pajak di kantor pos/bank. Cuma beberapa orang suka nganggap pembayaran dilakukan di kantor pajak dan beberapa duitnya masuk saku pegawainya. Info dari orang lain, katanya celah-celah suap itu ada pada saat terjadi pemeriksaan pajak, penagihan pajak sama penyelesaian kasus sengketa pajak. Jadi, hal yang cukup sulit dilakukan oleh pegawai pajak untuk mengorupsi uang pajak yang kita setor (karena uang disetor ke bank/kantor pos). Korupsi yang sering terjadi biasanya ada kongkalikong antara Wajib Pajak dan petugas. Kalo Wajib Pajak nya jujur dan nggak macem-macem, plus petugasnya berintegritas tinggi, kayaknya nggak bakal ada suap2an antara keduanya. 

    Ibarat lumbung padi, kementerian keuangan mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membiayai belanja negara. Pernah denger APBN kan?? Nah 70% duit APBN itu berasal dari pembayaran pajak, dalam hal ini pajak pusat. Kalo pajak daerah ya masuknya APBD tiap-tiap pemda. Kalo udah dikumpulin, DPR sama pemerintah bakal menentukan berapa porsi tiap-tiap kementerian kayak kementerian pendidikan, sosial dan lain-lain. Nah dari situ, kewenangan dan tanggung jawab duit yang dibagi-bagi itu sudah beralih ke kementerian masing-masing.
SO, jangan takut bayar pajak coz duitnya bakal dikorupsi pegawai pajak. Udah jelas kan banyak manfaat dari pajak, misalnya dana pendidikan BOS, pembangunan jalan, gaji PNS dsb. Masalah dana BOS dikorupsi oknum guru, bikin jalan dikorupsi oknum pemda/PU memang bikin ngilu hati rakyat. Tapi apa jadinya kalo kita nggak bayar pajak, kayaknya bakal tambah masalah. Biarkan para penegak hukum yg ngatasin koruptor-koruptor itu. Tapi percaya dah, kementerian keuangan udah melakukan reformasi birokrasi, peluang korupsi juga udah kecil dan susah (pegawai lama pernah curhat, hehehe). Tapi, namanya peluang tetep ada dan gak ada kesempurnaan di dunia ini. 

    Sebagai seorang muslim,pengenaan pajak menurut saya bukan solusi yang tepat untuk membiayai negara. Pengenaan zakat mal, infak dan shadaqoh sebenarnya mempunyai potensi yang sangat besar. Pengenaan ekonomi yang Islami (Syar’i) pun sudah tampak hasilnya saat ini. Bank-bank berkonsep Syariah menjamur dimana-mana. Investasi emas sudah banyak dilirik dibandingkan dengan investasi lain yang bersifat abstrak dan spekulatif. Andai saja penarikan zakat mal dapat dilakukan seperti halnya pada pemungutan pajak, mungkin saja penerimaan negara dapat lebih baik. Pajak (setau saya) dulu pernah dikenakan pada golongan kafir yang berada di wilayah Islam. Sedangkan zakat mal, ditarik dari para muzakki yang sudah memenuhi nisab dan haul. Mungkin saya tidak memberikan solusii dan saat ini saya bukan orang pemerintahan atau ahli apa pun. Saya hanya ingin berbagi pemahaman, semoga apa yang saya pikirkan berada di jalur yang benar #No Offense.



Semoga Indonesia makin sejahtera, Amin...