Wednesday, 9 January 2013

Wisata Kuliner di Kota Sukabumi (Tempat Makan di Sukabumi) Part II

Wisata Kuliner di Kota Sukabumi
(Tempat Makan di Sukabumi)

Karena kepanjangan, saya buat postingan part dua untuk artikel "Wisata Kuliner di Sukabumi".  Lanjut gan,....

11. Kedai Tomyam Depan Bank Mandiri (sudah diganti warung nasi Padang)


Nggak susah mencari kedai tomyam ini karena berada tepat di pertigaan Bank Mandiri Sukabumi, di Jl. Sudirman. Jika tidak jeli, mungkin Anda akan sulit menemukannya karena kedainya agak kecil. Rasa masakan khas Thailand ini dimana-mana ya asem-asem pedas, enak banget dimakan kala udara dingin menusuk tulang. Beraneka rasa tomyam disediakan di sini, mulai dari tomyam udang, cumi dan tomyam seafood lengkap. Tempat ini sangat cocok untuk penikmat rasa asam dan pedas. Range harganya nggak mahal kok, nggak lebih dari Rp25.000, tapi tergantung pesanan Anda juga (10rb-25rb plus plus).

12. Mie 'dahsyat' Odeon dan makanan lainnya

Ini bukan Mie Odeon, cuma visualisasi mie biasa saja.
Sempat temen saya naya, "Odeon itu di daerah mana?" Waduh, orang Sukabumi kok nggak tahu Odeon. Itu loh daerah pejagalan yang ada kelentengnya, Vihara berwarna merah untuk umat Budha. Untuk mencapainya bisa melalui jalan Ramayana atau dari pertigaan Bank Mandiri ambil ke arah jalan jalan Pelabuhan Dua. Pokoknya deket sama pasar Pelita Ramayana ada jalan. Dari situ, kita tinggal jalan beberapa meter ke arah terminal (Kalau bingung, tanya tukang ojek aja hehe...). 

Di jalan Odeon banyak dijajakan makanan-makanan unik, salah satunya mie yang dijual tepat di samping Vihara. Saya lupa nama warungnya, kalau tidak salah "Mie Oyin" . Harga per porsinya dahsyat Rp35.000,- dan porsinya itu super-duper besar makanya saya kasih nama mie 'dahsyat'. Kayaknya satu porsi layak dimakan untuk bertiga. Waktu itu kami memesan setengah porsi saja dengan harga (kalau nggak salah) Rp25.000,-. Setelah nunggu lama, akhirnya tibalah mie setengah porsi yang lebih mirip jatah dua porsi. Rasa Mie -nya enak poll, ada daging asap dan daging yang dipotong agak besar. Mie nya kenyal dan besar berwarna coklat, berpadu bumbu yang menari-nari di atas lidah #lebay. Daerah Odeon merupakan daerah pecinan Sukabumi. Jadi nggak heran waktu nunggu dibuatin mie, yang beli banyak kokoh sama enci-enci. Denger-denger makanan di sana haram ya? aduh nggak tahu deh, kalau pun iya sewaktu saya makan saya nggak tahu. Malah baru dikasih tahu teman sewaktu selesai makan di sana.

13. Pusat Makanan Cisaat Depan Islamic Center/Polsek Cisaat


Dari siang sampai malam sepanjang jalan depan Polsek Cisaat/ Islamic Center penuh dengan para pedagang kaki lima. Mereka menjajakan aneka makanan mulai dari buah-buahan, gorengan dan paling banyak adalah ayam goreng. Ada juga beberapa pedagang sate, nasi/mi goreng dan bakso. Jika sekedar mencari makan di malam hari, tempat ini layak dikunjungi dan pasti ramai pengunjung serta hingar bingar para pedagang. Percayalah!! (#Jargon Sulap)

14. Pisang Molen
 
Pisang molen yang satu ini beda lo, harganya pun lebih mahal sekitar Rp2000,- . Biasanya si emang tukang molen Bandung ini mangkal di samping Super mall dekat tempat masuk parkiran super mall. Ada banyak rasa molen yang disediakan diantaranya molen pisang, molen keju dll. Yang bikin beda dari molen ini adalah kulit molennya yang tebal. Kalau menurut saya malah lebih mirip kue bolu, tapi yang ini renyah. Rasanya memang nggak seenak molen Bandung asli kayak merek Kartika, tapi untuk ukuran pedagang kaki lima dan harga yang  relatif murah, tetap layak untuk dicoba.

15. Makaroni Basah, Martabak Mini, Aneka Sea Food Murah, Tahu Isi dll.


Tempat nongkrong anak muda yang cukup terkenal diantaranya di jalan Dago Sukabumi. Dago di sini pasti kalah rame dibanding Dago Bandung #jelas. Di jalan ini ada banyak sekolah seperti SMPN 1 Sukabumi dan SMAN 4 Kota Sukabumi. Untuk mencapainya gampang karena tinggal jalan lurus aja dari Jl. RE. Martadinata, arah Yogya toserba, Mc Donald, tapi sebelum toserba Selamat. Disana sering dijumpai penjual aneka jajanan (mungkin karena sering jadi tempat nongkrong dan banyak anak sekolah). Makaroni basah khas Bandung nya enak, pedas dan gurih. Harganya cukup murah mulai Rp3.000 tergantung pesan makaroni rasa apa. Semakin banyak variasinya (keju campur ayam, sapi, double makaroni) maka akan lebih mahal. Kenapa disebut makaroni basah, mungkin hal karena makaroni direbus dulu baru dicampur bumbu layaknya memasak mie goreng atau pasta. Jika makaroni ini disebut makaroni goreng seperti halnya mie goreng atau nasi goreng, pasti akan bermakna ambigu. Sebutan 'makaroni goreng' lebih condong ke makaroni yang garing seperti keripik.

Bandung memang nggak pernah kehilangan pesonanya sebagai pusat belanja pakaian dan kuliner. Hal ini berpengaruh juga terhadap perkembangan makanan daerah di sekitar Bandung seperti Sukabumi. Martabak mini dibandrol dengan harga mulai dari Rp1.500. Rasa martabak bervariasi mulai dari keju, pisang, wijen pokoknya rasa manis. Sama halnya dengan makaroni basah, semakin bervariasi maka harganya juga tambah mahal. Disebut martabak mini karena ukuran martabak ini cukup kecil dibandingkan martabak pada umumnya.


Tahu isi atau gehu in Sundanese. Gehu mean 'toge' dan 'tahu', orang Sunda memang sering menyingkat nama-nama makanan. Contoh lainnya seperti cireng = 'aci' digoreng, aci = tepung kanji/tapioka yang kenyal-kenyal itu lo. Comro = oncom 'dijero', dijero artinya di dalam. Cilok = 'aci' 'dicolok', dicolok artinya ditusuk. Mungkin karena isinya nggak lagi toge, jadi namanya diganti jadi tahu isi. Tahunya gede-gede ukurannya dan isinya bervariasi mulai dari sosis, bakso, keju dll. Ada rasa pedas ada juga yang nggak, tergantung selera.

Tahu pedas, makanan yang satu ini lagi merebak nih. Gambar gerobaknya 'api membara' dan rasanya memang benar-benar pedas, bikin panas perut. Cocok bagi penyuka pedas!


Cireng isi, sudah tahu kan cireng singkatan dari 'aci' digoreng. Jajanan yang satu ini juga terkenal berasal dari Bandung dan sekarang sudah banyak tersebar dimana-mana. Harganya murah kok kurang dari Rp5.000. Rasanya pun bervariasi mulai dari sosis, bakso, keju dll.


Aneka sea food di sini murah-murah. Letaknya di sebelah kiri jalan Dago (dari arah jalan R.E. Martadinata >> Yogya, Mc Donald belok ke kiri ke arah jalan kantor Walikota). Ada spanduknya juga kok, walaupun kecil. Di sini dijual aneka nasi goreng, mi goreng dan pempek. Ada juga aneka kerang laut. Tapi jangan harap disini Anda akan menemukan kepiting atau udang (harganya pasti mahal) karena di sini menawarkan menu murah meriah. Menu andalannya adalah aneka nasi goreng seafood. Harganya cukup murah, kalau nggak salah kurang dari Rp10.000. Rasanya lumayan lah, sesuai harga. Waktu itu kami lagi bokek nggak punya duit, tapi belagu pengen makan enak. Alhamdulillah ketemu sama warung yang satu ini. Sayang nggak ada foto-fotonya. Mafhum aja, kami bukan penganut narcisme.hehe...  

16. Bandrek, Bajigur dan Gorengan Balai Pengobatan (Tempat ngumpul anak muda) 


Jalan-jalan lagi nyok. Kalau ke tempat ini enaknya rame-rame, jangan berduaan apalagi pacaran #haram pacaran!!! (minta dipukul orang yg suka pacaran). Tempatnya ada di jalan arah kantor walikota, sekitar seratus meter dari pertigaan ke Selabintana dan ke kantor walikota. Jadi dari arah lapangan merdeka ambil ke atas (bukan ke arah Yogya), lalu ambil  kanan di bunderan/pertigaan pertama. Tempatnya sering disebut balai pengobatan, mungkin sebelum jadi tempat makan, dulunya tempat itu dijadikan balai pengobatan #maybe. Tempatnya agak sempit, namun terdapat tempat yang agak luas buat lesehan, ada juga meja dan kursi dengan jumlah terbatas. Kalau mau ke sini datanglah pada malam hari, tapi jangan aneh kalau tempat sering dipenuhi anak-anak muda. Lha, kalau udah tua gimana? kalau sama gengnya nggak bakal malu, tapi kalau sendiri mending beli makanan-minumannya dibungkus aja deh. Aneka gorengan hangat, minuman bajigur dan bandrek, ada juga tutut atau escargo bahasa France nya, menjadi andalan tempat ini. Sangat cocok untuk kamu-kamu yang ingin ngobrol santai sambil menikmati aneka jajanan ringan.

17. Food court Toserba Yogya, Restoran Mamih, Surabi-Bandrek Tasik dll.


Sebenarnya masih banyak tempat makan yang bisa disambangi seperti food court Toserba Yogya. Makanannya nggak hanya khas Sunda kok, ada martabak kuah khas Palembang, makanan ala-ala Jepang dan banyak lagi. Harganya disesuaikan sama image swalayannya :)


Ada juga restoran mamih dengan menu andalan nasi uduk warna warni. Letaknya di Jl. Brawijaya No.3, agak ke dalam dari jalan raya Sudirman (pom bensin, RS Assyifa >> maaf kalau nama jalannya salah).  Dari RS Assyifa > pom bensin > ada jalan ke kiri, masuk ke situ terus jalan ke utara sekitar 300 m, maka akan ketemu Rumah Makan Saung Mamih. Jika dilihat dari luar nggak kelihatan ada restoran karena tempatnya memang agak menjorok ke dalam. Variasi makanannya cukup banyak dan harganya pun bervariasi. Kalau weekend, biasanya akan sangat rame. Tempat makannya dibuat lesehan dengan lantai kayu. Lebih nyaman makan di lantai dua karena semilir anginnya menyejukkan dan bisa melihat pemandangan. 

Surabi khas Tasik dan Bandrek India sudah saya bahas pada postingan sebelumnya. Letaknya di daerah Kramat, searah dengan SMA hayyatan Thayyibah. Harganya murah, rasanya enak. Saya paling suka dengan bandreknya karena disajikan di batok kelapa dan dibuat dari bahan-bahan alami : gula aren, kayu secang, bunga pala dan jahe merah yang super pedas. Tempatnya pun nggak terlalu rame, sederhana dan sangat alami.


Tahu daerah Jalur? Itu loh jalan alternatif yang super lurus dari jalan Pelabuhan satu (yang ke arah Pelabuhan Ratu) menuju daerah Baros. Daerah jalur (nggak tahu nama jalannya) sering dipakai anak-anak muda buat nge-track alias balapan liar. Di sini terdapat terminal yang nggak jadi-jadi, kantor imigrasi dan warung-warung makan yang tersebar di mana- mana (bak jamur di musim hujan). Ketika saya mencoba mencari makan di sini, saya bingung memilih tempat makan yang mana. Tapi lebih baik Anda memilih tempat yang  agak bagusan daripada kecewa masuk ke tempat yang agak kurang terawat, harganya pun nggak seminimalis tempatnya. Rekomendasi yang pernah saya dapat sih warung sate jalur yang letaknya dekat dengan pertigaan ke arah Baros. Katanya sih enak, tapi saya belum mencoba juga. Saya cuma pernah makan di salah satu warung makan  di sana. Suasananya tradisional, konsep lesehan dan bale-bale (ruangan makannya) dibuat dari kayu, kayak saung-saung gitu. Harganya nggak mahal-mahal amat, tapi suasananya kurang enak karena agak gelap dan seram. Mungkin waktu itu lagi gerimis ya, jadi agak merinding disko hehe...

Kayaknya masih banyak tempat makan yang lain yang belum saya sambangi...Monggo yang mau nambahin silakan kasih komentar. Yang mau mengoreksi juga boleh.

*Semoga bermanfaat*