Tuesday, 29 November 2016

CERITA SEORANG SAHABAT DIASPORA DI AMERIKA YG BEKERJA DI CHEVRON, CALIFORNIA

Tags

Sumber: http://dwiantosyaiful.web.ugm.ac.id/?p=117

Sebuah cerita apik bagaimana menyikapi atmosfer kompetisi di sekolah. Ya, selama bertahun-tahun kita berada dalam lingkungan pendidikan yang mengedepankan gengsi. Masih ingat dulu, waktu sekolah, ada anak yang cerdas. Nilai matematikanya bagus, tapi pelit minta ampun.Diminta nentir, Jarang mau. Kalau punya ilmu baru selalu disimpen sendiri. Duh jadi ghibah nih #astagfirulloh.

Inget waktu kuliah dulu. Ada temen yang bilang gini waktu pemilihan ketua organisasi. "Menjadi pemenang bukan berarti harus mengalahkan. Apalagi menjatuhkan orang lain." Yuk lanjut baca viral cerita whatsapp berikut. Siapa yang buat? Wallohu'alam. Moga beliau ikhlas ceritanya saya share :)

                                                COMPETITION vs COOPERATION

Sumber: Viral Whatsapp
Sebuah catatan, yg mungkin bagus utk anak-anak Indonesia dan kita sendiri di lingkungan pekerjaan kita.

Jumat lalu, kedua anak saya menerima Report Card dari sekolahnya Ronald Reagan Elementary School (rapor kalau di Indonesia).

Melihat keduanya mendapat nilai-nilai yang sangat bagus. Anehnya kok tidak tercantum info tentang rangking? Saya tergoda bertanya ke salah satu gurunya...

“Anak saya ranking berapa, Ms. Batey?”
Dia balik bertanya, “Kenapa Anda orang Asia selalu nanya seperti itu?”

"Wah, salah apa saya ini....?" kata saya dalam hati.
Dia melanjutkan bicara, “Anda kok sangat suka sekali berkompetisi?" katanya.
"Di level anak Anda, tidak ada rangking2an...!"
"Tidak ada kompetisi!" tambahnya.

"Kami mengajari mereka tentang 'cooperation' alias kerjasama....!"
"Mereka harus bisa bekerja dalam 'team work'"
"Dan mereka harus bisa cepat bersosialisasi dan beradaptasi."
"Mereka harus punya banyak teman!"
"Lebih penting bagi kami untuk mengajari mereka story telling dan bagaimana mengungkapkan isi pikiran dalam bahasa yang terstruktur dan sistematis!"
"Kami mengajari mereka "logika" dalam setiap kalimat yang mereka ucapkan!"

Dari sini, rupanya kenapa teman2 saya di kantor mentalnya slalu "How can I help you? Hampir tidak pernah saya lihat mereka jegal-jegalan.

Dan, di Amrik hampir semua profesi mendapat penghasilan/penghargaan yang layak. Tidak harus semua jadi dokter, insinyur atau profesi lain yang terlihat "terhormat" seperti di Indonesia...

Semua orang boleh mencari penghidupan sesuai passionnya, sehingga semua bidang kehidupan berkembang maju, karena diisi oranng2 yang bekerja dengan penuh gairah.

Wah…saya jadi ingat, memang pendidikan di negeri saya sangat kompetitif.

Banyak orangtua yang narsis kemudian memajang prestasi anak-anaknya di sosmed. Wow! Tanpa disadari sebagian dari mereka nanti akan tumbuh menjadi orang-orang yang terlalu suka berkompetisi dan lupa bekerjasama.

Kiri-kanannya dianggap saingan bahkan sangat mungkin sebagai musuhnya?
Dirinya harus menjadi yang terbaik! Mending kalau si anak bisa mengembangkan dirinya supaya menang persaingan. Yang ada, kadang mereka justru menunjukkan kebaikan dirinya dengan cara menungkapkan kejelekan2 temannya ataupun orang lain...

"Kalo bukan kita siapa lagi?" begitu jargonnya…
Wuih..., betapa arogannya, seakan-akan fihak lain tidak ada yg bisa! Hanya dia sendiri yang mampu! Kemudian yg ada adalah menjadi sakit mentalnya….
"Aku menang.....aku menang....!" begitu suara anak-anak dari sebuah gang di ibukota... 
Entah permainan apa yang mereka menangkan?

Entah kapan dia sadar, bahwa hidup bukan melulu soal menang atau kalah!

The magic words is "How can I help you...” 🙏

***