Friday, 16 December 2016

Siapa Sebenarnya Sutisna Senjaya?



Dilansir dari http://www.nu.or.id/post/read/62679/sutisna-senjaya-tokoh-pers-dari-nu-jabar, barulah rasa penasaran saya terobati. Siapa sebenarnya Sutisna Senjaya atau lebih beken disingkat SutSen, sampai-sampai dijadikan nama jalan utama di Kota Tasikmalaya.

Tentu saja, sosok Sutisna Sendjaya atau lengkapnya Raden Sutisna Sendjaya bukanlah orang sembarangan. Beliau adalah salah satu tokoh Nahdatul Ulama Jawa Barat. Lahir di Wanaraja, Garut, pada 27 Oktober tahun 1890 M, beliau wafat di Bandung pada 11 Desember 1961.

Sutsen dikenal sebagai tokoh pers pada zamannya. Ia pernah memimpin Redaksi Majalah al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama yang diterbitkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya pada bulan Agustus 1933. Pengabdiannya di NU, membuatnya terpilih menjadi ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat tahun 1948.

Dikenal pula sebagai tokoh pergerakan di Paguyuban Pasundan, Sutisna Sendjaya sudah malang melintang sebagai redaktur surat kabar di zaman pra kemerdekaan. Tahun 1921-1922, beliau menjadi redaktur surat kabar Siliwangi dan penulis aktif surat kabar Sipatahoenan (1923)

Sutisna Sendjaya pernah menjadi anggota Chuo Sangi in pada masa pendudukan Jepang. Perjuangannya membela kemerdekaan dilakukan dengan mengomadani pergerakan perjuangan rakyat pada zaman revolusi fisik dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Tasikmalaya.
Perjuangannya melawan penjajah, ia tuangkan dalam media tulisan.Tahun 1920 terbit koran berbahasa Sunda, Sora Merdika yang dinakhodai H. Sanusi. Lalu terbit surat kabar Sipatahoenan. Kedua surat kabar tersebut sangat keras mengkritisi Belanda.

Pendidikan dan Pasca Kemerdekaan

Sutisna Sendjaya atau Sutsen menempuh pendidikan di Sakola Raja (KweekSchool) Bandung tahun 1911. Setelah itu, Sutsen mengajar di HIS Bantendan  di HIS Bandung. Beliau kemudian melanjutkan belajar ke HKS. Dan sempat mengajar di HIS Pasundan 1 Tasikmalaya.

Setelah zaman kemerdekaan, Sutisna Sendjaya memegang jabatan sebagai Kepala Kantor Urusan Agama di Jakarta. Setelah pensiun pada tahun 1954, ia bergabung dengan Daya Sunda. Bersama teman-temannya, beliau aktif kembali menerbitkan surat kabar mingguan berbahasa Sunda, Kalawarta Kudjang (1956). 


Itulah sepintas cerit tentang Raden Sutisna Senjaya. Sebuah jalan utama di kota Tasikmalaya. Nama jalan yang setiap hari dilalui warga tasikmalaya. Melihat kiprahnya dulu, wajar saja jika pemerintah Kota Tasik, menyematkan namanya sebagai salah satu nama jalan di kota santri.

Sumber: Abdullah Alawi-http://www.nu.or.id/post/read/62679/sutisna-senjaya-tokoh-pers-dari-nu-jabar

***